10 Desember 2008

glinggang

Hari masih pagi, kira-kira pukul 6. Aku baru saja menyelesaikan rutinitas menjelang berangkat kerja. Dari jendela kamar,aku melihat seorang janda setengah umur -yang ditinggal kawin lagi- asyik seliweran di setapak hutan kecil. Oh,dia sedang mengumpulkan kayu kering yang rontok dari pepohonan. Hanya ranting dan cabang tua yang kering sisa amukan angin semalam. Itulah glinggang.

Kusapa janda itu,”Mak,apa gak telat masuk kerja?”. Tiap hari ia pasti lewati setapak di dekat kamar untuk menuju tempat kerjanya. “Liburkah?”tanyaku selanjutnya.

Dengan senyum ia menjawab,”Kok libur,to?Lagi sulit begini meninggalkan kerjaan,keluargaku makan apa?”. Tangannya membawa potongan ranting yang akan dikumpulkannya di depan pintu kamar. Malah ia langung nyerocos dg bahasa jawa medok,”Waduh,Mas,dibela-belani keluyuran cari glinggang mulai subuh ya supaya dapur bisa berasap! Minyak tanah sudah tidak ada lagi di warung.”

Ia lantas meletakkan kayu-kayu kering itu;sepulang kerja sore nanti dia akan mengumpulkan tumpukan glinggang untuk menyalakan pawon-nya. Aku sadar,alam tak pernah berhenti memberi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar