29 Januari 2009

inilah kaum paling lemah

Sungguh mengejutkan, kegagahan seorang suami yang baru saja mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji lumayan harus musnah tatkala harus berhadapan dengan kenyataan bayinya sakit. Sementara istrinya tersenyum kecut melihat tubuhnya kurusnya kering. Kebanggaan itu terlambat, karena tiga tahun lamanya lelaki itu harus hidup dengan pesangon dari perusahaan yang lama; lelaki itu harus sangat berhemat.



...pernyataan Direktur the Aga Khan University, Zulfiqar A Bhutta bahwa pertumbuhan ekonomi hanya menyumbang sedikit pada penurunan angka kurang gizi terhadap ibu dan anak, tetapi dampak deteriorasi ekonomi sangat besar dan cepat. (Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Kompas.Com, 27 Januari 2009)



Dia pun bercita-cita untuk membeli lagi sepeda motor agar bisa mengajak istrinya jalan-jalan menikmati kemewahan kota... Duh, sepeda motor bmw (bebek merah warnanya) membayangi hidupnya sekarang. Dia mampu beli meski harus berhutang dan mengangsur. Dia mampu membayar!



Asia-Pasifik pernah mencapai pertumbuhan ekonomi mulai dari 6 sampai 8 persen, tetapi hasilnya tidak banyak dinikmati kelompok miskin. .(Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Kompas.Com, 27 Januari 2009)



Anaknya tiba-tiba menangis, tesedak batuk yang mendahului isakan... Mana yang harus dipilih? Sepeda motor atau bayi dan istrinya? Tiga tahun hidup berhemat tidak cukup kuat menahan badai kemiskinan akibat pemecatannya. Sepertinya sudah terlambat.



Di Indonesia, krisis keuangan 1997-1998 menyumbang pada naiknya angka kematian bayi dan anak balita sebesar 14 persen, angka anemia anak naik sebesar 50-65persen, dan 15-19 persen pada ibu hamil. Harga obat dan biaya pelayanan kesehatan melonjak 60 persen (di Filipina 40 persen, Thailand 41 persen), angka orang sakit naik sampai 14,6 persen, kasus TB naik 14,6 persen, angka putus sekolah menengah naik 11 persen.(Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Kompas.Com, 27 Januari 2009)



Akhirnya terucap doa, nyaris tak terdengar, “Tuhan, tolong aku. Beri aku uang berlimpah...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar