23 September 2009

puisi kekuatan

di simpang jalan coba
lekas hentikan langkah urai
lembar-lembar sarung hingga
liontin plastik tergantung layu lalu

petik kosong sejatimu
semula uangkap syukur abu
pada puntung-puntung patah
“aku pasrah...”



(pasuruan,2009)
tertantang episode kembali polos Mario Teguh dan Orchid

13 Maret 2009

mengapa haiku?

Matahari baru saja beranjak naik. Di beranda rumah, Antoko sibuk dengan hobinya: merawat kenari-kenari cantik miliknya. Ada puluhan sangkar kenari dengan seratusan penghuni. Riuh sekali. Melihatku berdiri di ambang gerbang pintunya, dia langsung menohok, “Sudah punya blog sekarang. Berhaiku lagi! Padahal setahuku selama ini kamu cuma penikmat, tidak menulis puisi pendek itu.”



Sepertinya dia tidak perlu jawabanku. Perhatiannya kembali ke kenari-kenarinya. Padahal aku sudah siap dengan segudang jawaban…



Beruntung aku tidak segera menyahut. Para kenari yang berkicau memberi dukungan kepadaku. Aku teringat sebuah buku yang mengajakku selalu merenungkan perkara-perkara kecil yang tampak remeh.



“Hei, bisakah kamu menjelaskan mengapa kenarimu berkicau?” kataku meminjam sebuah frasa dalam buku itu.



Sekarang aku yang tidak menunggu jawabannya. Aku mendengar istriku berteriak-teriak memanggilku.

05 Februari 2009

sastra internet?

Berkat ikut sebuah milis, aku mengetahui percikan dinamika sastra tanah air. Banyak sekali. Namun aku justru terpikat pada istilah sastra internet. Sastra internet seakan berhadapan dengan sastra cetak. Benarkah demikian?



Beda sastra internet dan sastra cetak terletak pada medium. Hanya medium, dengan konsekuensi serta resiko yang khas tidak bisa dibandingkan. Justru di titik inilah kita akan kembali pada pesan sastra itu sendiri, yang bisa diwakili dalam ungkapan: “hai dunia, ini aku...”



Bahkan mungkin internet memberi manfaat ganda bagi sastrawan cetak yang ingin menyebarkan karya-karyanya yang sudah dicetak atau dibukukan; semacam promosi atau menyimpan arsip. Nah, bagi pemula internet, menjadi ajang mencari jati diri dan ruang kepenulisannya –yang pada gilirannya nanti akan membukukan karya-karya mereka.



Bagiku, internet memberi jalan menemukan hal-hal baru. Mungin bisa juga berjumpa dengan karya-karya sastrawan muda atau calon sastrawan. Sastra internet tak lebih dari sastra di internet.

29 Januari 2009

inilah kaum paling lemah

Sungguh mengejutkan, kegagahan seorang suami yang baru saja mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji lumayan harus musnah tatkala harus berhadapan dengan kenyataan bayinya sakit. Sementara istrinya tersenyum kecut melihat tubuhnya kurusnya kering. Kebanggaan itu terlambat, karena tiga tahun lamanya lelaki itu harus hidup dengan pesangon dari perusahaan yang lama; lelaki itu harus sangat berhemat.



...pernyataan Direktur the Aga Khan University, Zulfiqar A Bhutta bahwa pertumbuhan ekonomi hanya menyumbang sedikit pada penurunan angka kurang gizi terhadap ibu dan anak, tetapi dampak deteriorasi ekonomi sangat besar dan cepat. (Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Kompas.Com, 27 Januari 2009)



Dia pun bercita-cita untuk membeli lagi sepeda motor agar bisa mengajak istrinya jalan-jalan menikmati kemewahan kota... Duh, sepeda motor bmw (bebek merah warnanya) membayangi hidupnya sekarang. Dia mampu beli meski harus berhutang dan mengangsur. Dia mampu membayar!



Asia-Pasifik pernah mencapai pertumbuhan ekonomi mulai dari 6 sampai 8 persen, tetapi hasilnya tidak banyak dinikmati kelompok miskin. .(Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Kompas.Com, 27 Januari 2009)



Anaknya tiba-tiba menangis, tesedak batuk yang mendahului isakan... Mana yang harus dipilih? Sepeda motor atau bayi dan istrinya? Tiga tahun hidup berhemat tidak cukup kuat menahan badai kemiskinan akibat pemecatannya. Sepertinya sudah terlambat.



Di Indonesia, krisis keuangan 1997-1998 menyumbang pada naiknya angka kematian bayi dan anak balita sebesar 14 persen, angka anemia anak naik sebesar 50-65persen, dan 15-19 persen pada ibu hamil. Harga obat dan biaya pelayanan kesehatan melonjak 60 persen (di Filipina 40 persen, Thailand 41 persen), angka orang sakit naik sampai 14,6 persen, kasus TB naik 14,6 persen, angka putus sekolah menengah naik 11 persen.(Maria Hartiningsih, Dampak Krisis terhadap Kesehatan Ibu dan Anak, Kompas.Com, 27 Januari 2009)



Akhirnya terucap doa, nyaris tak terdengar, “Tuhan, tolong aku. Beri aku uang berlimpah...”